My Facebook

https://www.facebook.com/

Selasa, 25 Oktober 2011

Nanopartikel Emas Bantu Diagnosis Awal Kanker Hati

Nanopartikel Emas Bantu Diagnosis Awal Kanker Hati

diagnosis kanker baru dengan menggunakan nanopartikel emas (sumber gambar : sciencedaily.com)
Hepatoselular carcinoma merupakan sel kanker yang umumnya menyerang liver. Lebih dari 500.000 orang yang mendiami daerah sub-Sahara di Afrika dan Asia Tenggara didiagnosa menderita kanker jenis ini tiap tahunnya. Dan sayangnya kebanyakan mereka berakhir dengan meninggal dunia 6 bulan setelah dinyatakan positif.
Salah satu tantangan terbesar pengobatan kanker hati adalah kurangnya diagnosis awal yang mumpuni. Teknik yang saat ini banyak dipakai untuk melakukan diagnosa awal meliputi ultrasaound, Sacn CT dan MRI, adanya spot tumor jika mereka memiliki ukuran minimal 5 cm. Tapi sayangnya saat inilah kanker sudah menjadi agresif, tahan terhadap kemoterapi, dan sulit dipisahkan dengan menggunakan operasi.
Berita terbaru dari sebuah penelitian yang di naungi oleh brown University melaporkan bahwa hasil yang sangat memuaskan dalam hal diagnosa kanker hati awal dengan menggunakan nanopartikel logam mulia emas. Laporan lengkap diterbitkan dalam ‘American Chemical Society journal Nano Letters’, mengungkap untuk pertama kalinya logam nanopartikel dipakai sebagai agen untuk menguatkan signal X-ray scattering untuk mendapatkan gambar tumor.
“Apa yang kami lakukan adalah bukanlah melakukan metode screening,” tutur christoph Rose-Petruck seorang profesor kimia di brown University.
“Namun seperti halnya pengecekan rutin dimana seseorang beresiko terhadap seseuatu seperti penyakit hepatitis , maka kita dapat menggunakan tekik ini untuk melihat apakah ada tumor walaupun ukurannya kurang dari 5 cm, bahkan sepersepuluhnya,” tambahnya.
Tim ini membuat nanopartikel emas berukuran 10 sampai 50 nanometer dan kemudian melapisinya dengan polielektrolit dengan ketebalan 1 nanometer. Dengan pelapisan ini maka membuat logam akan bermuatan hinggameningkatkan kemampuan mereka untuk diserap oleh sel kanker.
Setelah logam nanopartikel ini terserap maka tim akan menggunakan X-ray untuk mendeteksi sel maligan. Dalam suatu percobaan di laboratorium nanopartikel emas ini terkandung dalam kisaran 0,0006 persen untuk setiap satuan volume sel.
“Kami telah menunjukkan bahwa walupun dengan menggunakan partikel emas dalam jumlah yang sedikit kami bisa mebedakan mana sel tumor dan mana yang tidak,” tutur Rose-Petrruck lagi.
Dikabarkan untuk penelitian kedepannya mereka akan menarget antobodi sel kanker untuk diikatkan kepada nanopartikel untuk mencari sel kanker yang terdapat di dalam tikus, dan penelitian akan segera dilakukan musim panas ini.

Sifat Kologatif Larutan: Rumus dan Penjelasan Umum

Sifat Kologatif Larutan: Rumus dan Penjelasan Umum

Sifat koligatif larutan merupakan sifat fisika suatu larutan yang dipengaruhi oleh banyaknya zat yang terlarut di dalam larutan tersebut dan tidak dipengaruhi oleh jenis, ukuran, atau masa zat. Jadi larutan gula dengan lautan NaCl bisa saja memiliki sifat koligatif yang sama. Sifat koligatif larutan ini meliputi:
Banyaknya zat yang terkandung di dalam larutan ini dinyatakan dalam satuan konsentrasi, dimana dinyatakan dalam fraksi mol (untuk penurunan tekanan uap), molalitas (untuk kenaikan titik didih & penurunan titik beku larutan), serta molaritas untuk tekanan osmosis.
Selain konsentrasi diatas maka jumlah zat juga dipengaruhi oleh sifat alamiah zat itu sendiri, yaitu bisa tidaknya zat tersebut terionisasi di dalam suatu pelarut. Sebagai contoh glukosa C6H1O6 dan NaCl jika dilarutkan ke dalam air maka glukosa tidak akan terionisasi sedangkan NaCl akan terion menjadi ion Na+ dan Cl-.
Jika kedua larutan tersebut memiliki konsentrasi yang sama maka jumlah keduanya tiak akan sama. Larutan NaCl akan memiliki jumlah partikel dua kali lebih banyak dibandingkan dengan larutan gula disebabkan adanya ionisasi ini. Dan ini berarti larutan NaCl akan dua kali lebih banyak berinteraksi dengan molekul pelarut dibandingkan dengan larutan gula.
Oleh sebab itu maka penting sekali untuk mengetahui apakah larutan tersebut bersifat elektolit atau nonlektrolit jika Anda hendak menghitung sifat koligatif suatu larutan.
Rumus sifat koligatif larutan nonelektrolit
rumussifatkoligatiflarutannonelektrolit
Untk larutan elektrolit maka rumus diatas harus di koreksi dengan menggunakan vaktor Van’t Hoff yang dinyatakan sebagai berikut:
rumus faktor vanhoff:

n dapat ditentukan dengan sederhana seperti berikut NaCl berarti n= 2 sebab NaCl terionisasi menjadi Na+ dan Cl-, CaCl2 n=3 sebab CaCl2 terionisasi menjadi Ca2+ dan 2Cl- begitu dengan yang lainnya.
Rumus sifat koligatif larutan elektrolit

Keterangan:
  • delta P = penurunan tekanan uap
  • P = tekanan uap larutan
  • Po = tekanan uap pelarut
  • deltaTb = kenaikan titik didih larutan
  • Tbl = titik didih larutan
  • Tp = titik beku /tidik didih pelarut
  • delta Tf = penurunan titik beku larutan
  • Tfl = titik beku larutan
  • Kb = konstanta ebulioskopik
  • Kf = konstanta krisokopik
  • m = molalitas larutan
  • Xt = fraksi mol zat terlarut
  • i = vaktor van’t hoff
  • alfa = derajat ionisasi
  • n = jumlah partikel

Struktur Lewis dan Molekul SF4 -Sulfur (IV) Flourida

You are here: Home // Struktur Atom & Sistem Periodik // Struktur Lewis dan Molekul SF4 -Sulfur (IV) Flourida

Struktur Lewis dan Molekul SF4 -Sulfur (IV) Flourida

Struktur Lewis maupun molekul SF4 sulfur(IV) flourida atau belerang tetraflourida sangat mudah ditentukan. Caranya gampang kok, yuk checkit dot.
Belerang (S) berada di golongan VI A bersama dengan oksigen oleh sebab itu dia memiliki 6 elektron valensi, sedangkan flourin (F) berada di golongan VIIA dengan demikian memiliki elektron valensi 7. Perhatikan gambar dibawah ini untuk melihat struktur Lewis masing-masing unsur.

Atom F punya satu elektron yang tidak berpasangan, dan elektron inilah yang akan dipakai untuk berikatan secara kovalen dengan 1 elektron dari S, disebabkan SF4 membutuhkan 4 atom F maka elektron S yang tersisa adalah 2 dan ini menjadi pasangan elektron bebas. Perhatikan gambar dibawah:
struktur lewis sf4
Dari gambar diatas diketahui bahwa ada 5 pasangan elektron, maka bentuk dasar geometrinya adalah trigonal piramid namun disebabkan yang berpasangan adalah 4 dan 1 pasangan elektron bebas maka bentuk geometri dari SF4 adalah ‘seewsaw’ atau nama lainnya bipiramid segita (bayangkan seperti mainan jungkat jungkit anak-anak TK). Perhatikan gambar dibawah untuk lebih memahami.

SF4 dimana bilangan oksidasi S adalah +4 sedangkan F masing-masing -1. SF4 dibuat dari mereaksikan antara SCl2 dengan Cl2 dan NaF dengan reaksi sebagai berikut:
SCl2 + Cl2 + 4 NaF -> SF4 + 4 NaCl
SF4 dipergunakan dalam sintesis kimia organik untuk mengubah aldehid CHO dan keton C=O menjadi gugus fungsi CF atau CF2. Bentuk lain adalah SF6 yang memiliki geometri oktahedral.

Menghitung Efisiensi Energi Matahari Yang Dipergunakan Untuk Proses Fotosintesis

Menghitung Efisiensi Energi Matahari Yang Dipergunakan Untuk Proses Fotosintesis

Soal-soal Belajar Kimia kelas XI-Termokimia
Matahari menyuplai energi yang besarnya sekitar 1 kilowat untuk setiap 1 meter persegi area yang ada di bumi (1 watt = 1 J/s). Tanaman di suatu perkebunan untuk setiap hektarnya mampu menghasilkan 20 Kg sukrosa dalam waktu 1 jam ( 1 hektar = 10.000 m2. Apabila proses fotosintesis dapat ditulis dengan menggunakan reaksi berikut:
12 CO2 + 11 H2o -> C12H22O11 + 12 O2 ^H= 5640 KJ
Hitunglah prosentasi energi matahari yang dipergunakan dalam proses fotosintesis tersebut!
Jawaban Soal-soal Belajar Kimia kelas XI-Termokimia
Hitungan didasarkan dalam waktu 1 jam, energi matahari yang dihasilkan dalam waktu 1 jam adalah sebagai berikut:
Tiap 1 m2
= 1 Kw
= 1 KJ/s
Energi matahari dalam 1 hektar perjamnya:
= 1 KJ/s x 60 s x 10000
= 6.105 KJ
Mol sukrosa yang dihasilkan per jam:
= gr/Mr
= 20.000/342
= 58,48 mol
Panas yang dibutuhkan tumbuhan untuk menghasilkan 58,48 mol sukrosa:
= mol x entalpi
= 58,48 mol x 5640 KJ
= 3,29.105 KJ
Jadi prosentase energi matahari yang terpakai adalah:
= 3,29.105 KJ/6.105 KJ x 100%
= 55%,/p>

Menghitung Etalpi Pembakaran Standart Metanol

Menghitung Etalpi Pembakaran Standart Metanol

Soal-soal Kimia-BelajarKimia.com
Berapakah enthalpy pembakaran standart metanol jika diketahui bahwa pembakaran 1 gram methanol menghasilkan energi sebesar 22,34 KJ?
Jawaban Soal-soal Kimia
Ingat bahwa entalpi pembakaran didefinisikan sebagai perubahan entalpi yang menyertai pembakaran sempurna 1 mol suatu zat. Karena dalam soal yang diketahui adalah pembakaran 1 gram methanol maka kita harus mengubah 1 gram ke dalam mol dan kemudian mengubahnya kembali dalam unit 1 mol.
mol metanol
= g/Mr
= 1/32 mol
dalam setiap mol meanol yang dibakar dihasilkan energi
= 1 mol / (1/32 mol) x 22,34 KJ/mol
= 714,88 KJ
Jadi entalpi pembakaran metanol adalah 714,88 KJ/mol yang bila ditulis dalam reaksi kimia adalah sebagai berikut:
CH3OH + 3/2 O2 -> CO2 + 2H2O ^H = -714,88 KJ/mol

Menghitung Entalpi Pembakaran Parafin Dari Data Kalorimeter

Menghitung Entalpi Pembakaran Parafin Dari Data Kalorimeter

Soal-soal Kimia-BelajarKimia.com
Seorang siswa melakukan praktikum kimia untuk menentukan entalpi pembakaran standart parafin. Dia mencoba untuk melakukan percobaannya denga menggunakan kalorimeter. Setelah melakukan percobaan di laboratorium, siswa tersebut memperoleh data sebagai berikut:
  • massa kalorimetr = 16,0 gr
  • massa air dan kalorimeter = 410 gr
  • temperatur awal air = 200C
  • temperatur akhir = 35,50C
  • massa awal parafin = 25,7 g
  • massa akhir parafin = 23,5 g
Jika diketahui rumus kimia parafin adalah C25H52 dan kita asumsikan bahwa yang menyerap panas hanya air dalam kalorimeter , maka bantulah siswa tersebut untuk menghitung berapa besar entalpi pembakaran standart parafin berdasarkan percobaan dari siswa diatas.
Jawaban Soal-soal Kimia
Dengan kalorimeter maka kita bisa mengukur panas yang dihasilkan oleh suatu reaksi. Untuk soal diatas panas yang dihasilkan oleh pembakaran parafin diterima oleh air sehingga panas ini bisa dikonversikan untuk memperoleh enthalpi standart pembakaran parafin
massa air dalam kalorimeter
= massa total kalorimeter – massa total air
= 410 gr – 16,0 gr
= 394 gr
kenaikan suhu
= T akhir – T awal
= 35,5 – 20
= 15,5 0C
massa parafin yang terbakar
= 25,7 – 23,5
= 2,2 gr
energi panas yang diterima air
= m.c.^T
= 394 gr x 4.184 J/gC x 15.50C
= 25,552 J
mole parafin
= gr/Mr
= 2,2 / 677
= 0,00325 mol
energi yang dilepaskan untuk membakar 1 mol parafin
= 1/0,00325 x 25,552 J
= 7862,15 KJ
Jadi enthalpy pembakaran parafin standart sesuai percobaan siswa diatas adalah ^Hc= -7862,15 KJ/mol

Mencari Kalor Pelarutan KBr dengan Kalorimeter

Mencari Kalor Pelarutan KBr dengan Kalorimeter

Sebuah calorimeter “Coffee Cup” berisi 125 g air pada temperature 24,2 oC. Kemudian padatan kalium bromide 10,5 g yang juga pada suhu tersebut dimasukkan dalam calorimeter itu. Setelah semua KBr terlarut maka suhu yang terukur adalah 21,1 oC. Hitunglah perubahan entalpi pada proses pelarutan KBr tersebut dalam J/g dan kJ/mol. Asumsikan bahwa kalor jenis larutan adalah 4,18 J/C.g dan tidak ada panas yang ditransfer ke lingkungan.
Jawab:
Rumus termokimia yang dipakai untuk mengerjakan soal ini adalah q=mct dimana prinsipnya adalah panas yang diserap sama dengan panas yang diterima sistem. Karena suhu akhir lebih rendah dibanding suhu awal maka reaksinya tergolong endoterm artinya sistem menyerap panas.
Massa larutan = 125 + 10,5 = 135,5 g
Perubahan suhu = 21,1 – 24,2 =  -3,1 oC
Perubahan panas (q)
= m.c.(delta)T
= 135,5 . 4,18 . 3,1
= – 1755, 8 J
Ingat karena reaksi berjalan endoterm maka tanda (-) tidak kita pakai jadi perubahan panasnya adalah +1755,8 J
Perubahan panas pelarutan dalam J/g
= 1755,8 J / 10,5 g
= 1619,75 J/g
Mol KBr
= g/Mr
= 10,5 / (39+80)
= 0,088 mol
Perubahan panas pelarutan dalam kJ/mol
= 1755,8 J/0,088 mol
= 19952,27 J/mol
= 19,95227 kJ/mol
= 20 kJ/mol